Angin malam berhembus perlahan memasuki kamarnya melalui celah-celah ventilasi yang ada di kamarnya. Dingin… sepi… sunyi…
Tapi ia tak menghiraukannya, jantungnya berdegup kancang, seperti mau copot.
Tak jarang ia melihat arloji di kamarnya. Ayam berkokok. Akhirnya pagi yang ia tunggu datang juga.
Segera ia mengeluarkan sepeda bututnya dari rumahnya, dan diambil satu kranjang gorengan.
Dengan cepat ia menuju rumah pelanggannya, sapaan setiap pohon yang ia lewati tak ia hiraukan.
Sroooottttttt… dengan cepat ia mengerem sepedanya itu.
“ Ya ampun mbak, pelan-pelan. Tumben mengantarkannya pagi sekali.” Tanya pelanggannya sambil mengambil gorengan yang dibawanya.
Ia hanya tersenyum manis.
Degup jantungnya semakin kencang.
Nilai yang biasanya di tempel di papan pengumuman setelah TPM atau pun ujian kini tak ada. Mungkin karena pengoreksian lembar jawaban itu belum selesai jadi belum di tempel di papan pengumuman.
Lalu ia menuju kesebuah ruangan, gelap dan sunyi.
Krreeeeekkkkk…
Ia membuka pintu kelasnya perlahan dan menyalakan lampu.
Sekolah yang masih sepi dan ruang kelas yang masih sepi pula. Duduklah ia di sebuah kursi.
“ Hey, gimana hasil nilai TPM mu?” Tanya seorang temannya yang baru saja berangkat.
“ Aku belum tau.” Jawabnya sambil meletakkan tas sekolah di atas mejanya.
Tak lama kemudian hasil TPM itu ditempel di papan pengumuman. Ia bergegas menuju papan pengumuman.
Ternyata dipapan pengumuman sudah banyak yang datang. Mereka juga penasaran dengan nilai TPMnya.
Ia langsung menerobos kerumunan orang itu. Dilihatnya nama Nita Setiani Cahyani. Ia menduduki peringkat ke-2 dari 300 peserta didik di sekolahnya. Wow!!!
Peringkat yang bagus, walaupun ia tak menduduki peringkat pertama tapi ia bangga. Wajah yang tegang kini berubah menjadi manis dan penuh rasa senang.
Selamat ya. Kata-kata yang banyak ia terima dari teman-temannya.
Dengan wajah yang berseri-seri ia pulang dengan sepeda bututnya.
“ Gimana nduk tadi di sekolah?” Tanya ibunya sambil mengaduk adonan gorengan.
“ Nita seneng banget buk.” Jawab Nita sambil melepas sepatu sekolahnya.
“ Wah kenapa nduk?” Tanya ibunya lagi.
“ Nita dapat ranking ke-2 buk, dari hasil TPM kemarin. Kalau ibuk memperbolehkan, Nita pengen sekolah di kota buk.” Jawab Nita lagi.
“ Tapi, ibuk gak punya uang nduk kamu sekolah di desa saja ya nduk. Sekarang saja yang dapat BOS (Biaya Operasional Sekolah) tetap saja mahal bayarnya, apalagi di SMA yang sudah tidak ada BOS. Semakin mahal nduk. Untuk makan saja kita susah nduk dan bapakmu juga penghasilannya sedikit, cuman pemburu kepiting saja berapa. Terkadang juga gak dapat kepiting sama sekali.” Terang ibunya sambil menggoreng gorengannya.
“ Iya buk.” Jawab Nita pelan sambil menuju kekamarnya untuk berganti baju.
Hatinya tersayat-sayat. Ia ingin menangis tapi ia tak mungkin menangis.
Akhirnya ia menerima apa yang telah ibunya katakan padanya.
Tapi ia yakin ia pasti bisa masuk di SMA favoritnya.
“ Kamu mau melanjutkan di SMA mana Nita?” Tanya Putri.
“ Aku pengennya di kota tapi…” sempat terputus.
“ Tapi orang tua ku gak sanggup membiayainya jadi aku gak bisa sekolah di kota” sela Monic sambil tertawa terbahak-bahak.
“ Monic!!!! Keterlaluan!!!” sentak Putri.
“Memang benar yang dikatakan Monic, impianku ingin pertukaran pelajar kini telah pupus.” jawab Nita.
Wajahnya terlihat begitu layu.
Setelah ia pulang sekolah ia tak langsung menuju ke rumahmya tp ia ke pantai dekat rumahnya.
Ia berlari ketengah pantai. Ia sering datang di pantai kalau hatinya sedang sedih. Dan ia berdiri di sebuah batu karang yang besar.
“ Ya Tuhan kenapa Engkau beri cobaan yang berat bagi hamba-Mu ini. Apakah Tuhan uda gak sayang lagi sama Nita? Tuhan berilah kemudahan agar Nita bisa bersekolah di kota!!!” teriak Nita.
Ombak pantai menggulung dengan tinggi dan indah membuat Nita kagum akan Kuasa Tuhan. Tak lama ombak itu menghantam sebuah karang yang tak begitu besar, Nita pikir karang itu akan hancur berkeping-keping ternyata dugaan Nita salah, batu karang itu tetap kokoh, batu itu tak hancur sedikitpun.
Disitulah semangat Nita semakin membara dan ia yakin kalau ia dapat bersekolah di kota.
“ Sanggupkah ku seperti batu karang itu???” pikir Nita.
Hari ini perang itu dimulai. Ia minta doa restu kepada kedua orang tuanya.
Semua alat perangpun sudah ia persiapkan.
Akhirnya usai juga ia berperang dan ia berharap mendapatkan nilai yang sempurna.
Dua bulan kemudian. Inilah saat-saat yang ia dan teman-temannya tunggu. Semua orang tua kelas 9 mengumpul di ruang aula sekolah. Suasana saat itu menegangkan. Apalagi Nita, jantungnya berdegup kencang.
“ Saya bangga menjadi kepala SMP sini, perlu anda tahu. UNAS tahun ini ada yang mendapatkan nilai yang sempurna untuk semua pelajaran, ia memiliki nem 40,00. Fantastic!!! Dan saya umumkan bahwa SMP ini 100% LULUS dan yang mendapatkan nilai sempurna ialah …………..
Nita Setiani Cahyani. Selamat Nita!!! Anda mendapatkan nilai sempurna untuk semua maple, dan anda juga mendapatkan beasiswa bersekolah di kota, sekali lagi selamat.” Ucap kepala sekolah itu.
Nita terkejut dengan semua itu, ia seperti bermimpi. Ia menangis bahagia mendengar pengumuman itu, ibunya juga menangis.
“ Alhamdulillah nduk.” Ucap ibunya sambil memeluk Nita.
Kini ia menjadi salah satu murid di salah satu sekolah terbaik di Jogja. Dan ia dapat mewujudkan impiannya yaitu ia bisa ke luar negri dengan pertukaran pelajar. Amazing!!!
Setelah ia lulus di SMA ia melanjutkan ke perguruan tinggi di Jogja. Ia kuliah sambil menjadi seorang guru di salah satu sekolah di Jogja dan usaha gorengan ibunya pun ikut laris, bapaknya yang dulu mencari kepiting sekarang menjadi bos nya orang-orang yang mencari kepiting.
Monic teman SMP nya dulu, sekarang ia menjadi karyawan swasta di sebuah pabrik. Setiap Monic bertemu Nita ia pasti malu.
Walaupun Nita sudah kaya ia tak lupa dengan fakir-miskin, ia selalu menyisihkan uangnya untuk bersodakhoq.
Hidup di dunia ini memang keras dan butuh perjuangan, terkadang kita di bawah terkadang pula kita di atas.
Dan Tuhan juga Maha adil ^_____^
Created by Like Safa’atun



0 komentar:
Posting Komentar